Tradisi Perburuan Pari Manta di Lamakera

Artikel kali ini akan mengulas mengenai perburuan berkelanjutan Pari berjenis manta di daerah bernama Lamakera. Lamakera adalah nama sebuah desa yang ada di pulau Solor, kabupaten Flores Timur. Desa ini sudah terkenal seantero dunia sebagai desa pemburu baik hiu maupun manta. Desa Lamakera memiliki tradisi atau budaya penangkapan hiu dan pari yang setiap tahunnya diadakan upacara adat sekaligus misa untuk memohon berkah dari sang leluhur serta mengenang para arwah nenek moyang mereka yang gugur di medan lautan, bergelut dengan sang paus. Upacara dan Misa atau biasa di sebut lefa dilaksanakan setiap tanggal 1 Mei tiap tahun nya.

Nelayan di Lamakera merupakan salah satu dari ribuan penangkap pari di Indonesia. Lamakera sejak beberapa ratusan tahun lalu merupakan nelayan ulung yang menangkap pari dan hiu dengan alat tangkap tradisional seadanya. Masyarakat Lamakera tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam sebab topografi tanah tidak mendukung kegiatan ini, sehingga kegiatan melaut merupakan warisan utama para leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini.

1

foto oleh: iLCP Fellow Shawn Heinrichs

Pari berjenis Manta (Manta Spp) adalah ikan berukuran besar yang sangat eksotis, walaupun berukuran besar namun hewan ini tergolong jinak sayangnya hewan ini sudah masuk dalam kategori rentan dan terancam punah. Pari manta merupakan spesies dengan nilai tinggi untuk industri pariwisata. Namun, keberadaannya yang terancam karena perburuan yang dilakukan oleh para nelayan atau pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab menyebabkan jumlah manta yang hidup semakin sedikit di Indonesia. Padahal, pariwisata yang berbasis pari manta di Indonesia menyumbang hingga 10% total pendapatan pariwisata pari manta di dunia. Artinya, perairan Indonesia merupakan tempat hidup banyak sekali pari manta.

2

Ilustrasi oleh: The nature conservation

Secara umum nelayan Indonesia baik yang menggunakan alat tangkap tradisional maupun penangkapan moderen sejak beberapa dekade terakhir telah menangkap pari manta sebagai salah satu produk yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan pari manta tidak menjadi target utama penangkapan nelayan namun demikian sebagian nelayan di wilayah NTB dan NTT melakukan kegiatan penangkapan pari manta untuk dijual insangnya. Menurut hasil penelitian iLCP dalam beberapa tahun terakhir, pari manta semakin tereksploitasi, dimana hasil ekploitasi tersebut memanfaatkan insang yang dijual ke dalam dan luar negeri seperti Cina. Di dalam negeri insang kering ikan pari manta dijual dengan harga Rp 1,7 juta/kg. Sementara di luar negeri harganya bisa mencapai US$ 200 atau Rp 2,4 juta/kg.

Ini yang menyebabkan ikan pari manta banyak yang diburu dan dibunuh. Mahalnya harga insang ikan pari manta disebabkan karena mitos insang ikan pari manta dapat meningkatkan stamina seksual pria dewasa. Selain itu insang ikan pari manta juga dapat dijadikan obat herbal yang dipercaya manjur untuk penyakit organ dalam tubuh manusia serta sebagai obat untuk menyaring segala penyakit, daging serta kulit yang dikonsumsi secara lokal. Insang pari dipercaya bisa mengobati penyakit kanker walaupun penelitian belum memastikannya. Berdasarkan beberapa alasan ini yang mendorong para pemburu pari manta di lamakera. Berdasarkan Kegiatan ini telah memicu untuk menetapkan dua jenis pari manta, yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris), sebagai ikan yang dilindungi berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor. 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan PenuhIkan Pari Manta. Penetapan status perlindungan pari manta ini mengacu pada kriteria jenis ikan yang dilindungi seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, diantarantya adalah : populasinya rawan terancam punah, masuk dalam kategori biota langka, teah terjadi penurunan jumlah populasi ikan di alam secara drastis, dan atau tingkat kemampuan reproduksi yang rendah.

3

foto oleh: iLCP Fellow Shawn Heinrichs

Sebab tradisi perburuan manta ini sudah ada sejak lama dan turun temurun dilakukan oleh masyarakan Lamakera serta kenyataannya bahwa di Indonesia tidak memiliki sumber daya yang baik untuk memastikan kepatuhan terhadap penegakan hukum yang baik sehingga pemandangan perburuan manta di Indonesia masih terus berlangsung hingga saat ini dan pemberlakuan aturan yang tak seiring dengan pemberian solusi alternif yang konkrit bagi masyarakat yang  terkena dampak peraturan tersebut masih menjadi momok bagi masyarakat Lamakera untuk berhenti berburu dan mengalihkan perhatiannya untuk ikut serta melindungi pari manta tersebut dan mengelolah dan mengkonversi kawasan menjadi wisata bahari yang lebih menjanjikan.

Sumber :

International League of Conservation Fotografer Ocean Viewson

Oleh : Divisi Danus

Leave a Reply