Diveducation

Rehabilitasi, Sebagai Tindak Restorasi Terumbu Karang

Indonesia merupakan negara yang luas akan lautanya, “gak” salah disebut sebagai benua maritim. Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar, indonesia […]

Indonesia merupakan negara yang luas akan lautanya, “gak” salah disebut sebagai benua maritim.

Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar, indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang sangat potensial. Salah satu kekayaan tersebut tersimpan dari terumbu karang. Sebagai salah satu ekosistem “sabuk laut” yang khas dan terletak pada daerah tropis, ternyata produktifitas terumbu karang memiliki produktifitas yang sangat tinggi dibandingkan dengan 2 ekosistem lainya yaitu mangrove, dan lamun yang mengakibatkan keanekaragaman biota yang berada disana cukup banyak dan variatif.

Beberapa peran penting pada ekosistem terumbu karang dapat dilihat dari penjabaran berikut, yaitu sebagai pelindung fisik dan sebagai produk yang menghasilkan nilai ekonomi dan juga sebagai tempat biota laut untuk mencari makan dan pemijahan. Pemandangan yang indah yang disajikan oleh terumbu karang merupakan “surga bawah laut” bagi penikmatnya.

Terumbu karang memiliki peran utama sebagai habitat (tempat tinggal), pembesaran (nursery ground),  pemijahan (spawning ground), dan juga sebagai mencari makan (feeding ground) bagi berbagai jenis biota laut yang menjadikan terumbu karang sebagai habitatnya.

Luas terumbu karang Indonesia adalah 42000 KM2 atau 16,5% dari luas terumbu karang dunia yang mencapai 255.300 KM2(menurut buku koordinasi pemasangan dan pengelolahan terumbu karang, 2005). Namun sungguh ironis kondisi terumbu karang Indonesia mengalami kerusakan hingga 41% mengalami kerusakan berat, 29% kerusakan sedang, dan 23% kondisi baik, dan 7% dalam kondisi sangat baik (COREMAP, 2008).

“kenapa?” mungkin pertanyaan yang akan mewakili sebab kenapa bisa sampai kondisi seperti ini, beberapa penyebab yang dapat dipaparkan antara lain adalah perilaku ulah manusia, salah satunya antara lian penangkapan ikan yang tidak benar seperti menggunakan dinamit, sianida sebagai racun dan jaring penangkap ikan yang sifatnya merusak. Pemanasan global pemicu berikutnya yang secara tidak langsung merupakan ulah dari manusia yang menyebabkan coral bleaching. Pengambilan terumbu karang yang digunakan sebagai properti penghias interior  pengalih fungsi terumbu karang yang hanya untuk peningkatan ekonomi pribadi yang bersifat non konservatif.

Pemulihan, itu yang dibutuhkan untuk mengurangi penurunan kondisi terumbu karang, secara normal dibutuhkan waktu yang lama, namun saat ini telah banyak dikenal metode salah satunya adalah metode transplatasi karang.

Transplatasi karang merupakan salah satu cara dalam merehabilitasi terumbu karang melalui pencakokan atau pemotongan karang hidup yang selanjutnya ditambatkan ketempat lain yang mengalami kerusakan atau dapat dikatan menciptakan habitat baru pada lahan lain. Manfaat dari metode ini adalah mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak, sehingga dapat mendukung ketersediaan jumlah populasi ikan karang, menciptakan komunitas baru, konservasi plasma nutfah, pengembangan populasi karang yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Cukup sederhana dalam teknik transpaltasi mencakup tahapan:

    • Pengambilan bibit koloni karang, pengambilan bibit karang sebaiknya dilakukan di daerah lain yang memiliki kedalaman yang sama dengan lokasi transplantasi.
    • Pengikatan bibit koloni karang ke substrat, substrat pengikat karang dapat berupa gerabah atau semen, dan penenggelaman transplantasi karang dan rangka.
    • Perawatan, dilakukan untuk memantau tingkat stres dan kelangsungan terumbu karang pencatatan dengan jeda waktu yang linear.

Perbedaan dari setiap kegiatan transplantasi terutama terletak pada jenis bibit yang dipakai. Jenis bibit yang dipakai untuk transplantasi perdagangan karang hias  adalah bibit yang masuk dalam daftar perdagangan karang hias. Untuk wisata bahari, jenis bibit yang dipakai berasal dari jenis jenis yang memiliki penampilan yang menarik.

Pengontrolan daerah yang  memiliki tingkat kerusakan yang besar perlu dilakukan, guna untuk memantau seberapa besar kerusakanya dan juga mengontrol perekrutan terumbu karang pada daerah tersebut. Inilah salah satu upaya dalam penyelamatan ekosistem terumbu karang, dan masih banyk cara lain yang telah banyak dikembangkan, berhasil tidaknya dari upaya dalam merehabilitasi terumbukarang semua tergantung oleh pelaku rehabilitasi dan kesadaran masyarakat bahwa fungsi ekosistem ini sangat penting keberadaanya. @asingcreator

 

artikel terkait : Monitoring Terumbu Karang, Bioreeftek , Coral Watch

Leave a Reply