Diveducation

Penyelam Seperti Apakah Kalian?

“Aktifitas penyelaman memberi dampak pada terumbu karang..” Penyelam seperti apakah kalian? Dewasa ini aktivitas penyelaman merupakan aktifitas atau kegiatan yang […]

“Aktifitas penyelaman memberi dampak pada terumbu karang..”

Penyelam seperti apakah kalian?

Dewasa ini aktivitas penyelaman merupakan aktifitas atau kegiatan yang bukan terhitung langkah lagi, banyak muda mudi, anak, dewasa siapapun kaian dapat melakukan aktifitas ini dengan syarat tertentu.

Belakangan ini kita mengenal yang disebut dive discovery yaitu suatu paket yang mulai banyak disediakan oleh banyak dive center untuk para pelancong yang ingin menikmati keindahan wisata bawah laut secara kilat. Kilat yang dimaksud adalah tanpa melewati tahapan sertifikasi, yang dimana akan memerlukan cukup banyak waktu dan uang yang banyak dalam setiap tahapanya.

Para turis dapat menggunakan layanan paket ini dengan biaya yang cukup terjangkau dan dapat langsung menikmati betapa eksotiknya suasana bawah laut. Namun sungguh berbalik efeknya dengan banyaknya aktifitas yang dilakukan terhadap ekosistem terumbu karang.

Contoh kasus yang diambil dari kutipan berita Direktorat PJLKKHL, dimana daerah kasus yang diambil adalah Taman Nasional Bunaken, Manado.

Menurut sejarah, pada tahun 1980 kawasan TNB menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia. Sejak saat itu, nama Bunaken pun menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas di negeri ini juga di luar negeri. Meningkatnya jumlah pengunjung ke pulau Bunaken, berdampak pada meningkatnya aktivitas penyelaman di perairan ini. Disisi lain, dinamika sosial ekonomi masyarakat khususnya di Pulau Bunakenpun ikut berkembang.

Industri pariwisata di Pulau Bunaken adalah industri pariwisata yang memanfaatkan sumber daya alam sebagai obyek wisatanya, sehingga keberlangsungannya sangat ditentukan oleh keadaan sumber daya alam itu sendiri. Meningkatnya jumlah dan aktivitas pengunjung di Pulau Bunaken sedikit banyak akan mempengaruhi kelestarian ekosistem terumbu karang beserta komponen biotiknya. Monitoring dilaksanakan dengan pendekatan terumbu karang sebagai daya tarik penyelaman, dan dilakukan di titik penyelaman yang ramai pengunjung (Fukui, Pangalisang, Sachiko Lekuan I dan Lekuan II) dan titik penyelaman yang belum ramai pengunjung (Barakuda dan Batu Gepe di Pulau Mantehage, Tanjung Pisok di pesisir utara dan Tanjung Kepala di pesisir selatan). Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, kerusakan fisik terumbu karang diakibatkan antara lain karena penambatan jangkar, gangguan pada baling-baling perahu, pencemaran limbah perahu, ulah pengunjung, dan lain sebagainya. Pengamatan yang dilakukan di Fukui selama 3 hari berturut-turut pada saat peak season menemukan terjadi kegiatan penyelaman sebanyak 118 penyelam (termasuk guide) dengan menggunakan perahu sebanyak 18 perahu. Dengan asumsi rata-rata hari per bulan 30 (tiga puluh) hari, maka saat peak season yaitu selama 3 (tiga) bulan (Juli – September), terdapat 3540 penyelam di titik tersebut. Sedangkan pada low season (Desember – April) terdapat 2065 penyelaman, sdan pada normal season (Mei,Juni,Oktober dan Nopember) sebanyak 590 penyelaman per bulannya. Dalam kurun waktu satu tahun, maka terdapat 7965 penyelaman. Angka ini melebihi dari limit psikologis penyelaman per tahun yang direkomendasikan yaitu 4000 – 6000 penyelam per tahun. Dengan metode yang sama, di titik Lekuan juga telah melampaui limit tersebut yaitu sebanyak 9045 penyelam per tahun. Hasil dari kedua titik tersebut jika dibandingkan rata-rata tutupan karang batu di lokasi yang sama pada Desember tahun 2006 maka rata-rata tutupan karang di Fukui pada kedalaman 3 m telah terjadi penurunan (26,64% menjadi 12,28%) dan kedalaman 10 m terjadi peningkatan (30,24% menjadi 39,20%). Adapun di Lekuan II pada kedalaman 3 m dan 10 m semua terjadi peningkatan tutupan karang batu. Hasil pengamatan yang telah dilakukan di lokasi Fukui dan Lekuan II rata-rata cukup hingga baik kecuali di Fukui pada kedalaman 3 m dengan tutupan karang masuk kategori rusak (12,28%). Akan tetapi apabila dilihat dari persentase tutupan komponen biotik, hanya Lekuan II pada semua kedalaman yang nilainya baik, sedangkan Fukui masuk kategori jelek (persentase komponen biotik > 50%). Hasil pengamatan juga menemukan banyaknya sampah plastik di tempat pengamatan yang dibuang oleh para pengunjung dan menimbulkan tekanan terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang.

nah, dari kasus yang telah dijabarkan yang dikutip dari berita Direktorat PJLKKHL.. sebagai penyelam apa yang dapat kamu lakukan? dan kamu yang bukan penyelam apa tindakan kalian?
Penyelam seperti apa kalian?

semoga bermanfaat yaaa..
@asingcreator

Penyelam Handal

Leave a Reply