Nitrogen, Selam, dan Efek Anestesi (Narkosis)

Menyelam tergolong kegiatan alam terbuka yang memiliki resiko dan batasan yang mengatur prosedur keselamatan penyelamnya,  jadi tidak salah jika selam dikatakan termasuk olahraga paling berbahaya nomor 2. Apabila setiap pergerakan dan langkah yang dilakukan tidak sesuai prosedural dapat mengakibatkan kematian bagi penyelam. Segala aturan penyelaman dibuat berdasarkan perubahan fisika dan fisiologi dalam air terhadap udara dan adaptasi fisiologis, sebagai penyelam harus mengerti dan memahami hal ini.

Nitrogen, dan efek anestesinya pada penyelam. Kenapa bisa berbahaya? Padahal gas ini cukup mendominasi di atmosfer kurang lebih sebesar 78,17 %. Konsep ringkas yang dapat saya paparkan seperti ini segala gas yang kita hirup pada kondisi X dikatakan baik bahkan dibutuhkan, namun pada kondisi Y akan menjadi racun dan dapat membunuh kita.

nitrogen narkosis
Molekul Nitrogen

Manusia melakukan penyelaman turun ke dalam laut, tekanan sekelilingnya akan meningkat dengan sangat hebat. Let say, nitrogen pada kondisi 1 atm tidak menjadikan bahaya bagi tubuh namun pada kondisi lebih dari 1 atm anggap lebih dari 30 – 40m akan menjadi sebuah racun bagi tubuh kita seorang penyelam. Terjadilah itu yang namanya mulai dari efek anestesi, kesadaran hilang, kebutaan, dan until the worst adalah kematian.

Sekitar empat per lima udara terdiri dari nitrogen. Pada tekanan 1 atm yang telah dijelaskan tadi tidak memiliki efek terhadap tubuh namun pada tekanan tinggi memiliki efek anestesi yang mengakibatkan narkosis dengan derajat bervariasi, jadi semakin dalam kita menyelam tekanan udara akan semakin besar, sehingga semakin banyak kadar nitrogen dalam tubuh yang larut bersamaan dengan darah, kenaikan konsentrasi nitrogen ini yang terindikasi langsung dengan saraf dan jaringan yang mengakibatkan efek anestesi atau narkosis biasa kita kenal. Penyelam akan rentan terkena ini apabila sebagai penyelam menyalahi prosedur salah satunya naik ke permukaan dengan cepat.

volume-vs-kedalaman-Tangki-Oksigen-Scuba-Diving

Anestesi

Apa itu anestesi? Sering kita dengar anestesi pada kegiatan pembiusan saat operasi, anestesi berasal dari bahasa yunani yaitu an- tidak, tanpa dan aesthetos  yaitu kemampuan merasa, yang berarti hilangnya kemampuan merasa. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Oliver Wendel pada tahun 1846.

Bagaimana mekanisme ini bisa terjadi? Bila  orang bernapas  dalam lingkungan udara  bertekanan tinggi  dalam jangka  waktu lama, jumlah  nitrogen  yang  larut  dalam cairan  tubuhnya  akan  meningkat.  Darah  yang  mengalir melalui  kapiler  paru akan jenuh dengan nitrogen pada tekanan yang sama dengan tekanan dalam alveolus yang terdapat dalam udara campuran pernapasan. Setelah beberapa jam, cukup banyak nitrogen yang diangkut ke jaringan di seluruh tubuh selanjutnya Nitrogen larut dalam substansi lemak di membran dan karena efek fisik nitrogen dalam merubah aliran ion yang melewati membran akan menurunkan rangsangan saraf, hal ini dimungkinkan karena nitrogen tidak dimetabolisme oleh tubuh dan terus akan tetap larut di seluruh jaringan tubuh sampai tekanan nitrogen pada paru – paru turun ke beberapa tingkat yang lebih rendah sehingga secara alami dapat dikeluarkan dengan pernapasan namun membutuhkan waktu.

Secara detail dapat dijelaskan nitrogen yang masuk ke dalam setiap jaringan tubuh di transport oleh pembuluh darah akibat dari overekspansi gas dalam paru – paru masuk melalui pembuluh darah vena dan menyusup ke setiap jaringan tubuh dan otak. Masuknya nitrogen ke dalam pembuluh darah akan menyebabkan terbentuknya gelembung udara, yang dimana gelembung ini muncul seketika bila penyelam tiba – tiba naik  ke permukaan laut dan kemunculannya cukup signifikan. Gelembung udara dalam pembuluh darah ini juga menghambat aliran darah. Jumlah dan ukuran gelembung mempengaruhi fatalnya kerusakan yang terjadi dalam tubuh. Hal ini biasa dikenal sebagai penyakit dekompresi.

Decompression Stop !

Ini diharuskan jika penyelam melakukan penyelaman melebihi batas waktu yang ditentukan pada setiap dive table biasa disebut NDL- no decompression limit. Tata laksananya seperti ini, penyelam diharuskan untuk berdiam diri pada kedalaman tertentu dan pada jangka waktu tertentu. Hal ini dimaksudkan agar nitrogen terlarut sempat keluar dari aliran darah dengan pernapasan biasa yang kita lakukan.

 

Efek anestesi nitrogen yang terjadi dalam tubuh antara lain menyebabkan penglihatan tunnel (tunnel vision), euforia, tinnitus, ketidakmampuan mengerjakan tugas yang kompleks, kehilangan koordinasi, timbulnya rasa keriangan akibat kedalaman, rasa mengantuk dan mungkin hilang kesadaran. Hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah) dan kerja berat biasanya memperberat gejala yang bisa bervariasi pada setiap penyelam dan tempat penyelaman yang berbeda (lebih berat pada lokasi yang dingin, gelap dan visibility yang kurang memadai).

chi2013-a

Efek – efek ini dapat dibagi menjadi beberapa stadium sebelum akhirnya akibatnya fatal bagi penyelam yang terkena keracunan gas ini.

  • Stadium pertama

Pada stadium ini penyelam akan merasakan rasa kantuk disertai halusinasi keriangan namun belum kehilangan kesadaran, hanya gejala sistemik syaraf seperti pusing dan sebagainya.

  • Stadium kedua

Pada stadium ini penyelam akan mengalami kecemasan yang luar biasa dan mulai kehilangan koordinasi, ketidakmampuan mengerjakan tugas atau misi pada penyelaman yang cukup kompleks. Disamping itu penderita akan mengalami paralisis atau kolaps (kehilangan kesadaran).

  • Stadium ketiga

Merupakan stadium yang sangat kritis dimana jaringan tubuh si penyelam sudah terlarut banyak gas yang menjadi gelembung dalam darah dimana penderita akan mengalami pernafasan yang tidak teratur, perubahan pergerakan mata (tunnel vision), 3% penderita akan kehilangan kesadaran, beberapa kasus akan bersifat kerusakan syaraf jaringan yang dimana kerusakan ini bersifat menetap.

  • Stadium keempat

Jika level derajat keracunan sudah pada tingkat ini menandakan tanda pengikatan dalamnya anestesi oleh nitrogen, bisa dikatakan pada tahap ini terjadi depresi berat pada pusat pernafasan, penyelam akan mengalami rasa seperti tercekik yang disebabkan gelembung – gelembung kecil masif menyumbat kapiler paru – paru dan ditandai napas pendek yang berat. Tanpa bantuan pernapasan, penyelam akan mengalami endema paru yang berat hingga kehilangan kesadaran bahkan meninggal. Namun hanya terjadi sekitar 2% pasien penyelam.

 

Artikel terkait : Saturation Diving

Leave a Reply