METODE SURVEI TERUMBU KARANG

Tujuan, ketersediaan waktu, keahlian surveyor dan keberadaan sarana dan parasana merupakan alasan dalam pemilihan metode survei terumbu karang yang dlakukan, agar hasil survei dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Setiap metode survei memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing, sehingga penggunaan metode satu dengan lainya dapat dikatakan belum dapat memuaskan. Untuk menutupi kekurangan ini biasanya metode satu dengan yang lainya saling melengkapi.

Ada beberapa alasan mengapa sulitnya menggambarkan kondisi terumbu karang saat ini. Suharsono (1994) memaparkan beberapa alasan atas kondisi tersebut yaitu:

  • Terumbu karang yang tumbuh di tempat geografis yang berbeda mempunyai tipe yang berbeda
  • Ukuran individu atau koloni sangat bervariasi dari beberapa sentimeter hingga beberapa meter
  • Satu koloni karang dapat terdiri beberapa individu sampai jutaan individu
  • Bentuk pertumbuhan sangat bervariasi seperti bercabang, masif, merayap, seperti daun, dan sebagainya
  • Tata nama jenis karang masih relatif belum stabil dan adanya perbedaan jenis yang hidup pada lokasi geografis yang berbeda, serta adanya variasi morfologi dari jenis yang sama yang hidup pada kedalaman yang berbeda maupun tempat yang berbeda

Penyajian dalam bentuk struktur komunitas yang terdiri dari data; persentase tutupan karang hidup dan juga persentase tutupan karang mati, jumlah marga, jumlah jenis, jumlah koloni, ukuran koloni, kelimpahan frekuensi, bentuk pertumbuhan dan lain sebagainya merupakan cara dalam menggambarkan kondisi terumbu karang pada suatu perairan.

Berikut penjelasan singkat mengenai beberapa metode yang biasa digunakan dalam survei terumbu karang :

  • Metode Transek Garis

Transek garis digunakan untuk menggambarkan struktur komunitas karang dengan melihat tutupan karang hidup, karang mati, bentuk substrat (pasir, lumpur), alga dan keberadaan biota lain. Pemilihan lokasi survei harus memenuhi persyaratan keterwakilan komunitas karang di suatu pulau. Umumnya dilakukan pada tiga kedalaman yaitu 3 m, 5 m dan 10 m, tergantung keberadaan karang pada lokasi di masing-masing kedalaman. Panjang transek digunakan 30 m atau 50 m yang penempatannya sejajar dengan garis pantai pulau.  Pengukuran dilakukan dengan tingkat ketelitian mendekati sentimeter bahkan milimeter. Dalam penelitian ini satu koloni dianggap satu individu. Jika satu koloni dari jenis yang sama dipisahkan oleh satu atau beberapa bagian yang mati maka tiap bagian yang hidup dianggap sebagai satu individu tersendiri. Metode lain yang mengacu pada prinsip transek garis ini yaitu point transect , salah satu contoh aplikasinya sering gunakan pada program Reef Check . Pengamatan dilakukan pada setiap 0.5 meter terhadap karang keras, karang lunak, karang mati, alga dan biota lain.  (English, 1994; Sukmara dkk, 2002)

  • Metode Transek Kuadrat

Metoda transek kuadrat digunakan untuk memantau komunitas makrobentos di suatu perairan. Pada survei karang, pengamatan biasanya meliputi kondisi biologi, pertumbuhan, tingkat kematian dan rekruitmen karang di suatu lokasi yang ditandai secara permanen. Peralatan yang dibutuhkan adalah kapal kecil, peralatan scuba, tanda kuadrat 1 m x 1 m dan sudah dibagi setiap 10 cm, kaliper, GPS dan underwater camera . Data yang diperoleh dengan metoda ini adalah persentase tutupan relatif, jumlah koloni, frekuensi relatif dan keanekaragaman jenis.  (English, 1994; Sukmara dkk, 2002)

  • Metode Manta Tow

Penelitian menggunakan metoda manta tow bertujuan untuk mengamati perubahan secara menyeluruh pada komunitas bentik yang ada pada terumbu karang, termasuk kondisi terumbu karang tersebut. Metode ini sangat cocok untuk memantau daerah terumbu karang yang luas dalam waktu yang pendek, biasanya untuk melihat kerusakan akibat adanya badai topan, bleaching, daerah bekas bom dan hewan Acanthaster plancii (Bulu seribu). Teknik ini juga sering digunakan untuk mendapatkan daerah yang mewakili untuk di survei lebih lanjut dan lebih teliti dengan metoda transek garis. Metode manta tow ini dengan cara menarik peneliti dengan menggunakan perahu selama dua menit dengan kecepatan tetap 3-5 km/jam atau seperti orang yang berjalan lambat. Apabila ada faktor lain yang menghambat seperti arus yang kencang, maka kecepatan perahu dapat ditambah sesuai dengan tanda dari si pengamat yang berada di belakang perahu. Peralatan yang digunakan dalam metode manta tow ini adalah kaca mata selam (masker), snorkel, fin, perahu motor minimal 5 PK, papan manta yang berukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tebal dua cm, tali yang panjang 20 m dan berdiameter satu cm, pelampung kecil, alat tulis bawah air.  (English, 1994; Sukmara dkk, 2002)

  • Metode Transek Sabuk

Transek sabuk digunakan untuk mengambarkan kondisi populasi suatu jenis karang yang mempunyai ukuran relatif beragam atau mempunyai ukuran maksimum tertentu misalnya karang dari genus Fungia . Metoda ini bisa juga untuk mengetahui keberadaan karang hias (jumlah koloni, diameter terbesar, jumlah jenis) di suatu daerah terumbu karang.  Panjang transek yang digunakan ada 10 m dan lebar 1 m, pengamatan keberadaan karang hias yang pernah dilakukan oleh lembaga ICRWG (Indonesia Coral Reef Working Group) menggunakan panjang transek 30 m dan lebar 2 meter (1 m sisi kiri dan kanan meteran transek). Metode lain yang merupakan pengembangan dari metode sabuk (belt transect) dan juga digunakan peneliti saat ini adalah video belt transect, metode ini menggunakan video untuk merekam sepanjang transek dan luasan yang dilalui.  (English, 1994; Sukmara dkk, 2002)

untuk lebih lengkap:
Metode Survei Terumbu Karang

One Reply to “METODE SURVEI TERUMBU KARANG”

Leave a Reply