Dampak Modifikasi Cantrang Terhadap Perikanan

Halo Buddies ? Salam Gelembung !

Tau gak sih apa itu cantrang ? atau jangan-jangan buddies sekalian belum pernah dengar lagi. Nah, di kesempatan kali ini kita akan ngebahas tentang cantrang, apa dampaknya terhadap kesehatan lingkungan laut kita, dan bahkan dampaknya bagi kehidupan nelayan yang kerap menggunakan cantrang sebagai alat penangkap ikan.

Apa sih itu cantrang ? Cantrang merupakan alat penangkapan ikan yang bersifat aktif. Biasanya dioperasikan dengan menebar tali selambar secara melingkar, dilanjutkan dengan menurunkan jaring cantrang, kemudian kedua ujung tali selambar dipertemukan dan ditarik ke arah kapal sampai seluruh bagian kantong jaring terangkat. Namun, ketika dilakukan penarikan jaring, terjadilah pengadukan dasar perairan yang dapat menimbulkan kerusakan dan dampak signifikan terhadap ekosistem dasar bawah laut.

Sebenarnya cantrang adalah alat penangkap ikan (API) yang ramah lingkungan. Bahkan pernah menjadi usulan alat penangkap ikan yang diperbolehkan pemerintah untuk menggantikan alat penangkap ikan yang tidak ramah lingkungan dan dilarang oleh Pemerintah RI melalui Keputusan Presiden RI Nomor 39 Tahun 1980.

Namun, cantrang yang digunakan oleh nelayan saat ini kebanyakan adalah cantrang yang dimodifikasi dengan ukuran jaring hingga puluhan bahkan ratusan kilometer, menggunakan pemberat, dan penarikan yang dilakukan oleh mesin. Kebanyakan cantrang yang digunakan juga memiliki rata-rata ukuran mata jaring sebesar 1,5 inchi, dimana hal ini tidak sesuai dengan Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 02 Tahun 2011 bahwa ukuran mata jaring cantrang yang diperbolehkan harus berukuran lebih dari 2 inci.

Ukuran mata jaring yang terlalu kecil dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan kelestarian ikan. Mengapa ? karena ikan ikan kecil yang seharusnya masih bisa berkembang malah ikut terangkut dan menyebabkan populasi ikan menjadi menurun. Padahal hasil penelitian di Brondong – Lamongan yang dilakukan oleh IPB pada tahun 2009 membuktikan bahwa hanya 51% hasil tangkapan cantrang yang berupa ikan target, sedangkan 49% lainnya merupakan non target. Adapun hasil penelitian di Tegal yang dilakukan oleh Undip pada tahun 2008 memaparkan bahwa penggunaan cantrang hanya dapat menangkap 46% ikan target dan 54% lainnya non target yang didominasi ikan rucah. Belum lagi terumbu karang yang rusak akibat tersapu jaring cantrang.

 

 

Gambar 1. Apa Itu Cantrang ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

lho.. kok sampai sekarang masih banyak penggunaan cantrang ? padahal dari penjelasan diatas kayaknya cantrang pada saat ini sangat tidak ramah lingkungan.

Sebenarnya pelarangan penggunaan cantrang resmi berlaku setelah KKP menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan API Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik. Dan kini sedang pada tahap pembersihan kapal kapal cantrang.

Peraturan ini juga sempat menuai kontra khususnya dari kalangan nelayan yang menggunakan kapal cantrang. Para nelayan menganggap bahwa dengan dikeluarkannya peraturan tersebut maka mereka akan kehilangan pekerjaan dan jumlah tangkapan akan menurun.
Namun dengan diberhentikannya penggunaan cantrang menjadi alat penangkap ikan memang dapat menurunkan jumlah tangkapan ikan namun justru dapat menaikkan nilai produksi.

 

Sumber :
http://www.depkes.go.id
http://www.committedtocrab.org/wp-content/uploads/2015/04/2-permen-kp-2015.pdf
https://petaniberas.blogspot.com/2017/05/penggunaan-jaring-cantrang-dan.html

 

Oleh :
Yefta Olivia
Divisi HUMAS UKSA 387

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.