DAMPAK COVID-19 TERHADAP KONDISI PARIWISATA BAHARI INDONESIA

Sumber: Dokumentasi pribadi.

Sektor pariwisata di Indonesia selama ini menjadi sumber kontribusi devisa terbesar kedua bagi Indonesia. Namun, pandemi virus Covid-19 mengubah pariwisata bahari. Dampak dari virus corona yang muncul sejak akhir tahun 2019 lalu tidak hanya pada kesehatan saja. Namun, perekonomian berbagai negara termasuk Indonesia pun turut terkena imbasnya. Industri pariwisata bahari adalah salah satunya.

Sejak adanya instruksi menjaga jarak sosial dan digaungkan beraktivitas di rumah saja, sektor pariwisata bahari menjadi lesu. Bahkan, kelesuan itu sudah dirasakan sebelum Indonesia mengumumkan ada pasien positif corona pada awal Maret 2020 lalu. 

Sejumlah stimulus yang disiapkan pemerintah untuk membangkitkan sektor pariwisata tak mampu membendung dampak negatif Covid-19. Wisata bahari banyak ditutup yang berarti tak ada pemasukan bagi mereka yang bekerja di bidang pariwisata bahari. Okupansi mayoritas hotel juga turun drastis yang berarti tak ada pendapatan.

Krisis Wisatawan dan Sulitnya Kegiatan Bawah Laut akibat COVID-19

Melemahnnya industri pariwisata bahari akibat virus corona juga terjadi di Indonesia. Beberapa destinasi wisata seperti Bali dan Karimunjawa mengalami penurunan pengunjung yang cukup drastis.

Bali merupakan salah satu destinasi yang paling terkena dampaknya. Wisatawan mancanegara adalah sumber pemasukan nomor satu dari Pulau Dewata tersebut. Terlebih, wisatawan dari China adalah penyumbang terbanyaknya.

Bulan Februari 2020, sebanyak 392.824 wisatawan datang ke Bali menurut Kantor Imigrasi Bali dan angka ini turun sebesar 33% sejak bulan Januari akibat virus corona. Jumlah wisatawan Cina ke Bali pun berkurang drastis. Tahun 2019 lalu, sekitar 2 juta wisatawan Cina mengunjungi Bali sedangkan pada bulan Februari hanya ada sekitar 4 ribu wisatawan. jumlah penghuni hotel di Bali turun sampai 70 persen sejak virus corona menyebar dan hal ini berpengaruh terhadap kesejahteraan para karyawan.

“Sejak mulai ada COVID-19 di Wuhan, salah satu Dive  Center di Bali sudah mulai sepi pengunjuung. Saat resmi diumumkan terdapat coronavirus di Indonesia, banyak pengunjung yang membatalkan kunjungannya sehingga tidak mendapatkan pemasukan dan mereka menjual alat-alat selam untuk bisa membayar gaji karyawan. Selain itu, pemotongan gaji juga dilakukan untuk dapat menjaga kebutuhan ekonomi para karyawan,”  kata Davis Pramayuda Wibawa UKSA-387 angkatan XXI yang bekerja sebagai Dive Guide di Bali. Pantai terlihat sepi dari pengunjung. Hanya ada pengelola usaha yang duduk santai di pesisir. Beberapa kapal pesiar bahkan memutuskan untuk tidak berlabuh di Bali.

Selain itu, The Paradise of Java atau julukan dari Taman Nasional Karimunjawa juga terdampak dari COVID-19. “Karimunjawa tidak dapat dimasuki oleh wisatawan dan juga tidak bisa dilakukan penelitian sehingga tidak ada aktivitas di Dive center Karimunjawa sehingga sertifikasi selam tidak dapat dilakukan, kemudian masyarakat lokal ada yang beralih untuk menangkap ikan dan jika ada sisa akan dijual,” kata Instruktur Selam SSI, Bonifacius Arbanto, UKSA-387 Angkatan IX.

Selain kegiatan pariwisata, kegiatan Penelitian yang dilakukan di bawah laut yang juga terdampak karena kesulitan dalam penerbangan dan mencari hotel menjadi salah satu penyebabnya.

“Kegiatan survei bawah laut juga dihentikan karena penerbangan, hotel dan penyewaan alat selam tidak bisa dilakukan sehingga tidak dapat dilakukan pengambilan data untuk penelitian bawah laut sehingga harus ada yang dibatalkan dan ada yang ditunda,” kata Peneliti Kelautan, Andreas Muljadi, UKSA-387 Angkatan III.

Membangkitkan kembali industri pariwisata bahari setelah wabah virus corona

Industri pariwisata merupakan industri yang melibatkan manusia sebagai komoditas utamanya. Maka dari itu, maskapai penerbangan, hotel, restoran, dan agen perjalanan yang mengandalkan pemasukan mereka dari turis mengalami krisis akibat penyebaran virus corona.

Jika terus dibiarkan, negara bisa mengalami kerugian akibat industri pariwisata yang terus anjlok. Pariwisata internasional yang terus bertumbuh adalah salah satu industri yang paling signifikan menaikkan kondisi ekonomi dunia sejak tahun 1950-an. Bagaimana solusi yang dapat dilakukan?

“Menurut saya, Pemerintah disarankan perlu membuat peraturan dengan mengizinkan kegiatan pariwisata dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan untuk menjamin peralatan yang selalu steril untuk menghindari kontaminasi atau dengan pengurangan pajak dari pelaku industri wisata bahari. Para pelaku usaha dapat membuka atau menjual paket dengan potongan harga jika telah diizinkan untuk beroperasi kembali agar lebih dapat menarik pengunjung,” kata Peneliti Kelautan, Andreas Muljadi, UKSA-387 Angkatan III.

Industri pariwisata bahari yang memiliki dampak yang cukup berat diharapkan semua lapisan masyarakat untuk saling membantu satu sama lain.

Diver disarankan untuk memiliki alat sendiri agar mengurangi kontaminasi dan melindungi diri sendiri. Kemudian untuk mendukung para pelaku usaha yang mengalami kerugian, disarankan untuk membeli peralatan yang diberikan potongan harga untuk membantu kehidupan para pelaku wisata bahari agar tetap bertahan. SSI juga mengadakan sertifikasi science of diving secara online meskipun ditengah adanya pandemi,” kata Instruktur Selam SSI, Bonifacius Arbanto, UKSA-387 Angkatan IX.

Berfikir positif adalah kunci agar dapat melewati Pandemi Covid-19 ini sehingga imunitas dapat ditingkatkan dan peluang kedepannya diharapkan pariwisata di Indonesia dapat bertahan dan kembali pulih secara bertahap.

“Diharapkan setiap agensi yang melakukan sistem Renewal untuk digratiskan, agar dapat membantu tenaga kerja yang terdampak dari pandemi Covid-19, karena sektor pariwisata tidak akan langsung kembali dengan cepat untuk mengembalikan kondisi seperti sebelumnya dan mendapatkan penghasilan dari industri pariwisata seperti hotel atau dive center yang terdampak paling dahulu dan membutuhkan trauma healing jika akan aktif kembali,” kata Davis Pramayuda Wibawa UKSA-387 angkatan XXI yang bekerja sebagai Dive Guide di Bali.

Melihat keadaan ini, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama berupaya menggerakan wisata domestik dalam rangka menutup kerugian yang ditimbulkan oleh wisatawan mancanegara.

Meskipun begitu, pemerintah negara yang terkena dampak dari virus corona harus berupaya untuk memulihkan industri pariwisata setelah wabah ini berangsur menurun. Dengan demikian, wisatawan bisa bepergian lagi dan kondisi ekonomi bisa kembali stabil.

Penulis:

Ahmad Faras Indrawan (U-XXVI).

Sumber:

Aditya, M. 2020. Virus Corona dan Dampaknya terhadap Industri Pariwisata di Seluruh   Dunia. https://Bobobox.co.id.

Mutiah, D. 2020. Sektor Pariwisata Nyaris Tumbang Akibat Corona COVID-19,   Menparekraf Masih Siapkan Solusi. https://liputan6.com./lifestyle

One Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.